•  

    Maret 2008
    S S R K J S M
         
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • pilih kategori

  • silahkan masuk

  • arsip

    anda adalah apa yang anda ikirkan

memungut batuu

asif mainullah fathan

Apa yang bisa diungkapakan dari frasa ‘memungut batu’? Di siang yang terik, di pojok lapangan bola, dengan hembusan angin kering kemarau, segerombolan santri melakukan sebuah eksekusi besar. Dalam genggaman mereka, ember-ember retak tanpa gagang, (entah dari rak kamar mana mereka merampoknya), menanti isi.batu-batu

Mereka mematung, kadang menggaruk kepala, siang yang terik terlalu kejam untuk mencairkan bulir keringat dengan ketombe meranggas kulit kepala. Seorang ustadz berdiri di depan mereka, berkacak pinggang. Sejumput kertas di tangannya bercerita panjang tentang daftar kesalahan dan pelanggaran. Sesaat sang ustadz melirik kembali daftar itu. Kabur, merokok, main ps, ah, kesalahan klise, nikmat dunia yang terlalu dangkal untuk dinikmati sesaat, pikirnya.

“Antum tahu kenapa antum ada di sini?“
Suara berat, memecah kebuntuan di terik siang.

“Untuk dihukum ustadz…“
Seorang santri menimpali sekenanya.

“Yah, silahkan, masing-masing 10 ember. Saya beri waktu sampai ashar. Harus penuh, yang tidak penuh, nanti saya dobel dua kali lipat….“

Dan dimulailah eksekusi itu. Satu per satu batu diambili, di congkel dari tanah, dicomot begitu saja. Panas yang terik masih membakar, dan para santri berpeluh keringat. Sambil mengusap jidatnya, sesaat ia berbisik…

“Dasar batu, sampai kapan kau akan habis….??“

***

Adegan di atas bukan fiktif belaka, anda semua pasti pernah merasakannya. Lapangan mandul yang kering meranggas itu memang tak pernah bosan ditumbuhi batu, kerikil, bahkan batu kerakal. Sehingga tak jarang, hukuman yang diberikan untuk para santri pelanggar adalah ’memungut batu’, di lapangan kering meranggas itu. Entah ide cemerlang siapa dan siapa pertama kali yang memulai eksekusi hukuman ini. Tapi yang jelas, hukuman ini cukup efektif, selain menjadi pelajaran yang sangat memukul (oleh sebab memungut batu 10 ember di siang terik adalah sangat2 melelahkan dan boring total) juga sangat menguntungkan, karena batu-batu yang ada di lapangan menjadi berkurang dan ustadz atau santri bisa lebih menikmati permainan sepak bolanya.

Siapa yang tak kenal lapangan mandul? Ia memiliki letak yang sangat strategis, berada tepat di depan pintu masuk pondok. Diberi nama mandul, merupakan singkatan dari Manis Kidul, karena memang hak miliknya adalah pada desa Manis Kidul. Pernah ingin dibeli pondok namun warga menolak. Dan akhirnya lapangan itu dugunakan bersama-sama saja. Kondisinya? Sangat luar biasa, batu kerikil, sampai batu besar semua ada. Rumput? Jangan bicara tentang rumput sintesis atau rumput bermudagrass hibrida C-transvaalensis yang biasa kita temui di stadion kelas berat, anda melihat sejumput akar yang tumbuh pun itu sudah alhamdulillah. Bandingkan dengan Old Trafford, Guisseppe Meazza, atau San Siro, anda akan melihat emas dan kotoran cicak, sangat jauh sekali, seperti bumi dan andromeda.

Itu semua karena konfigurasi tanah yang kering, berbatu, dan penuh debu kemarau, semacam gabungan antara gurun Sahara dan arena rock climbing di pinggiran Arizona. Tak terbayang andai David Beckham atau Frank Lampard bermain disana. Mungkin saja talenta mereka menguap bersama debu-debu kemarau yang dihembus angin. Boleh dicoba, MU vs Team A HK, pasti MU akan dibantai habis 5-0, asal mainnya di lapangan mandul, lapangan hebat, fantastis, berumput tebal, dan tribun penuh lapak pedagang

Terlalu banyak kenangan yang tersimpan bersama lapangan kering kerontang mandul tercinta. Sepak bola, ya, tentu saja fungsi utama dari lapangan itu adalah untuk bermain bola. Dan sepanjang sejarah sepak bola hk, lapangan mandul telah menorehkan banyak misteri. Dan juga duka tak terperi. Kejadian paling aneh adalah gol kontroversial karena bola terkena batu. Ini adalah peristiwa paling ’gila’ dalam catatan sejarah sepak bola. Mana ada, dalam pertandingan bola kelas amatir manapun, gol dianulir karena bola yang seharusnya ditangkap kiper, meleset karena terkena batu. Mungkin hanya di pondok kita, terutama di lapangan mandul kering kerontang itu, kejadian ini benar-benar ada.

Sudah banyak kecelakaan baik ringan maupun berat terjadi di lapangan mandul. Ada kiper yang kesakitan karena menjatuhkan badannya di atas rumpun batu yang tumbuh subur di bawah gawang. Ada yang kesandung batu, sehingga jatuh dan terluka. Ini belum seberapa, ada lagi, santri yang patah kaki atau tangan karena saat jatuh, terkena batu yang menyumbul dari dalam tanah. Suatu hal yang sangat ironi, ingin sehat dengan olah raga malah menuai sakit berkepanjangan, semoga tidak terjadi lagi.

Yah, itu baru sepak bola saja. Lapangan bola mandul juga merupakan tempat dilakukannya upacara dalam hari-hari besar tertentu, saat itulah, banyak akhwat yang bergelimpangan. Bukan syahid di medan perang tentunya, namun pingsan, semacam euforia kunang-kunang dan melemahnya kondisi fisik yang menyebabkan ketidaksadaran. Entah karena belum makan atau memang sedang tak sehat, selalu saja ada yang pingsan di setiap upacara. Mungkin karena lapangan mandul yang terlalu meranggas, kering kerontang dan fantastis penuh misteri itulah penyebabnya. Bukankah kejadian itu jarang terjadi saat upacara berlangsung di lapangan basket?

***

Beberapa minggu yang lalu, saat saya dan teman2 Jogja berkunjung ke pondok, kami lihat perubahan memang telah banyak terjadi. Banyak gedung baru dibangun, ada ruang khusus makan, ada lab bahasa, ada lab informatika, gedung-gedung dimodifikasi, dan asrama baru didirikan. Tak terasa, dua tahun memang telah berlalu, dan selama itulah dunia berubah, juga pondok kita. Teman saya yang lebih dari lima tahun tidak melihat almameternya terkaget-kaget melihat pondok kita, banyak perubahan, fisik maupun psikis. Ternyata, selain gedung dan tata ruang yang semakin memiliki bentuk, para santri juga semakin tak berbentuk, semakin tidak ilmiah, bahasa semakin tak ada, dan yang paling terlihat adalah asrama semakin kotor. (setidaknya kondisi ini pada saat saya dan kawan2 melihat secara kasar saja)

Mungkinkah ini implikasi dari setiap kemajuan? Semakin maju dan berkembang suatu strata sosial semakin berkembang pula mode-mode kerusakan moral. Entah teori ini sudah dibuktikan secara ilmiah atau belum, yang jelas kita melihat itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Adalah desa, yang selalu identik dengan kenyamanan, keramahan, kesalihan moral dan tatanan sosial yang harmonis sementara terbelakang secara teknologi dan fasilitas hidup. Namun kota, maju dan berkembang secara teknologi dan fasilitas namun memiliki tatanan sosial yang kacau, tidak teratur, acuh tak acuh, tidak aman dan nyaman. Itu secara general dan random saja.

Bagaimana dengan pondok kita? Meski secara fasilitas dan teknologi semakin maju, tidak layak jika tatanan sosial yang telah terbangun sebelumnya ikut berubah. Nilai-nilai kebaikan yang telah ada seharusnya dijaga dan dikembangkan, sehingga kontrol sosial tetap ada dan pondok tetap berada pada jalur asholahnya, yaitu pusat pendidikan agama dan spiritual. Sudah semestinya para pengelola lebih fokus pada fenomena ini, evaluasi dan analisa harus selalu dilakukan, barangkali kebijakan dan tata ruang hukum perlu dirombak, mengingat perubahan fisik juga menuntut perubahan psikis. Seperti kita tahu, elemen manusia tidak hanya akal dan raga, tapi juga hati. Pembangunan fisik, yang memenuhi kebutuhan akal dan raga seharusnya juga diiringi dengan pembangunan psikis, yang memenuhi kebutuhan hati, kebutuhan spiritual.

Representasinya adalah ketenangan batin, kenyamanan, aman, penuh dengan dzikir, manusia yang berakhlakul karimah. Saya rasa motto pondok kita sudah sangat mewakili, ‘disiplin, sederhana, rajin beribadah, berakhlak mulia, gemar membaca’. Itulah yang harus dijaga dan dikultuskan. Seperti tradisi dan budaya yang selayaknya tak lekang dimakan usia. Semaju dan sehebat apapun kondisi fisik pesantren, seharusnya nilai dan norma itu tidak hilang. Meskipun kita melihat pesantren kita yang beranjak menuju ’kota’ dari kondisinya yang dulu sangat ’desa’, seharusnya kita tetap merasakan pondok yang nyaman, damai, tenang, indah luar dalam. Sehingga saat berkunjung atau sekedar singgah ke pesantren, kita akan disuguhi wisata spiritual, khas ciri kehidupan Islam, yang tentunya tak kita temui di kehidupan luar.

Memang, tak mudah menyikapi perubahan. Bahkan yang ada pada diri kita sendiri. Kita sering terlupa, dan tak sadar bahwa perubahan-perubahan banyak menyeret kita pada kondisi yang lebih buruk atau setidaknya lebih tidak nyaman dari sebelumnya. Sehingga, sering kita dapati orang berkata, ’si dia memang telah berubah’, atau, ’kamu sudah banyak berubah ya…’. Perubahan menuju kebaikan tentu saja kita terima dan dukung, namun jika realita mengatakan sebaliknya, maka alangkah naif. (Dengan iman dan istiqomah semua itu pasti mampu diatasi). Bagaimanapun keshalihan dan biah hasanah harus kita endapkan dalam diri, sehingga itu menjadi suatu standar hidup yang akan kita bawa kemana-mana.

Seperti kata teman saya yang terkaget-kaget melihat pondok setelah lima tahun, “pondok memang telah banyak berubah“, berubah dalam arti yang sesungguhnya, fisik maupun psikis. Namun ia memberi pengecualian, “Satu yang tak berubah, yaitu lapangan bola mandul“. Awalnya saya tertawa mendengarnya, barangkali ia hanya bercanda dan mencoba memberikan hiburan segar. Samun seketika saya sadar, ini bukan intermezzo atau canda tak penting yang dibuat-buat. Silahkan buktikan sendiri, lapangan kering-kerontang itu seakan kaku, membeku dalam fungsi waktu. Entah mengapa, ia selalu akrab dengan batu-batu, dari dulu hingga kini. Seakan-akan memang ada kekuatan yang menyebabkan batu-batu itu muncul dari dalam tanah, seperti tanaman saja. Walaupun ribuan tangan santri dikerahkan untuk memunguti batu itu, ia akan tetap ada disana.

Apakah ini hanya mitos, atau memang ada pembuktiannya secara geologis? Saya tidak tahu. Yang jelas, dalam hidup ini, memang seharusnya ada sisi-sisi dimana perubahan tidak membawa kita menjadi orang lain. Dan tetap menjadi diri kita adalah kuncinya. Just be your self. Begitu pula seharusnya pondok pesantren kita, almameter yang kita akui bersama. Menjadi pondok kita yang dulu, ah, andai saja itu benar-benar terjadi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.